FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR

        A.        Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, internal dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar (learning disabilities) adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problem belajar (learning problems) adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan (reinforcement) yang tidak tepat.
Disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga dapat menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain adalah:
                     1.         Faktor genetik
                     2.         Luka pada otak karena trauma fisik dan karena kekurangan oksigen
                     3.         Biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan saraf pusat)
                     4.         Biokimia yang dapat merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan)
                     5.         Pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam)
                     6.         Gizi yang tidak memadai
                     7.         Pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan). Dari berbagao penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari yang tarafnya ringan hingga yang tarafnya berat.
         B.        Prinsip-prinsip Pembelajaran Anak Berkesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
                     1.         Kesulitan Belajar Menulis
·         Pelajaran menulis mencakup menulis dengan tangan atau menulis permulaan, mengeja, dan menulis ekspresif.
Menulis dengan Tangan dan Menulis Permulaan Sejak awal masuk sekolah anak harus belajar menulis tangan karena kemampuan ini merupakan prasyarat bagi upaya belajar berbagai bidang studi yang lain. Kesulitan menulis dengan tangan tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak tetapi juga guru. Tulisan yang tidak jelas misalnya, baik anak maupun guru tidak dapat membaca tulisan tersebut.
Menurut Lerner (1985: 402), ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak menulis:
                                              a.         Motorik
                                             b.         Perilaku
                                              c.         Persepsi
                                             d.         Memori
                                              e.         Kemampuan melaksanakan cross modal
                                              f.          Penggunaan tangan yang dominan; dan
                                             g.         Kemampuan memahami instruksi.
Anak yang perkembangan motoriknya belum matang atau mengalami gangguan, akan mengalami kesulitan dalam menulis; tulisannya tidak jelas, terputus-putus atau tidak mengikuti garis. Anak yang hiperaktif atau yang perhatiannya mudah teralihkan, dapat menyebabkan pekerjaannya terhambat, termasuk pekerjaan menulis. Anak yang terganggu persepsinya dapat menimbulkan kesulitan dalam menulis. Jika persepsi visualnya yang terganggu, anak mungkin akan sulit membedakan bentuk-bentuk huruf yang hampir sama seperti “d” dengan “b”, “p” dengan “q”, “h”, dengan “n” atau “m” dengan “w”. Jika persepsi auditorisnya yang terganggu, mungkin anak akan mengalami kesulitan untuk menulis kata-kata yang diuacpkan oleh guru. Gangguan memori juga dapat menjadi penyebab terjadinya kesulitan belajar menulis karena anak tidak mampu mengingat apa yang akan ditulis. Jika gangguan menyangkut ingatan visual, maka anak akan sulit untuk mengingat huruf atau kata; dan jika gangguan tersebut menyangkut memori auditori, anak akan mengalami kesulitan menulis kata-kata yang baru saja diucapkan guru. Kemampuan melaksanakan cross modal menyangkut kemampuan mentransfer dan mengorganisasikan fungsi visual ke motorik. Ketidakmampuan di bidang ini dapat menyebabkan anak mengalami gangguan koordinasi mata-tangan sehingga tulisan menjadi tidak jelas, terputus-putus, atau tidak mengikuti garis lurus. Anak yang tangan kirinya lebih dominan atau kidal tulisannya juga sering terbalik-balik dan kotor. Ketidakmampuan memahami instruksi dapat menyebabkan anak sering keliru menulis kata-kata yang sesuai dengan perintah guru.
Kesulitan belajar menulis sering disebut juga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut juga agrafia. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau simbol-simbol matematika. Disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau disleksia karena kedua jenis kesulitan tersebut sesungguhnya saling terkait.
Kesulitan belajar menulis sering terkait dengan cara anak memegang pensil. Ada empat macam cara anak memegang pensil yang dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa anak berkesulitan belajar menulis, yaitu:
·         Sudut pensil terlalu besar
·         Sudut pensil terlalu kecil
·         Menggenggam pensil (seperti mau meninju), dan
·         Menyangkutkan pensil di tangan atau menyeret (Hornsby, 1984: 66). Jenis memegang pensil yang terakhir, menyeret pensil, adalah khas bagi anak kidal. Keempat macam cara memegang pensil yang khas bagi anak berkesulitan belajar menulis tersebut dapat dilihat pada gambar 1. (hal 371).
Hingga saat ini ada dua pendapat tentang bentuk tulisan yang harus dipelajari pada awal anak belajar menulis. Ada yang berpendapat bahwa anak harus belajar huruf cetak dahulu sebelum belajar huruf sambung, dan ada pula yang menyarankan agar anak langsung belajar huruf sambung.
Menurut Hagin (Lovitt, 1989: 227),



ada lima alasan perlunya anak diajar menulis huruf cetak lebih dahulu pada awal belajar menulis, yakni sebagai berikut:
                                             1.         huruf cetak lebih mudah dipelajari karena bentuknya sederhana
                                             2.         Buku-buku menggunakan huruf cetak sehingga anak-anak tidak perlu mengakomodasikan dua bentuk tulisan
                                             3.         Tulisan dengan huruf cetak lebih mudah dibaca daripada tulisan dengan huruf sambung
                                             4.         Huruf cetak digunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti mengisi formulir atau berbagai dokumen; dan
                                             5.         Kata-kata yang ditulis dengan huruf cetak lebih mudah dieja karena huruf-huruf tersebut berdiri sendiri-sendiri.
                                 1.         Para ahli yang menyarankan agar anak diajar menulis dengan huruf sambung lebih dahulu bertolak dari tiga alasan, sebagai berikut:
tulisan sambung memudahkan anak untuk mengenal kata-kata sebagai satu kesatuan
                                 2.         Tidak memungkinkan anak menulis terbalik-balik; dan
                                 3.         Menulis dengan huruf sambung lebih cepat karena tidak ada gerakan pensil yang terhenti untuk tiap huruf
Pengalaman menunjukkan, bahwa untuk menentukan jenis tulisan yang harus diajarkan pada saat anak belajar menulis permulaan bukan pekerjaan yang sederhana. Guru harus melakukan observasi cukup lama lebih dahulu untuk menentukan jenis tulisan yang pertama harus diajarkan. Jika hasil observasi menunjukkan bahwa anak telah memiliki kematangan motorik, memiliki koordinasi mata-tangan yang baik, memiliki kemampuan untuk melihat keseluruhan (gestalt) dengan baik, dan memiliki kemampuan analisis yang baik pula, maka guru dapat langsung mengajarkan huruf sambung kepada anak. Tetapi jika persyaratan-persyaratan seperti yang telah disebutkan belum terpenuhi, sebaiknya guru mengajarkan huruf cetak lebih dahulu kepada anak.
                     2.         Mengeja
Dalam bahasa Indonesia belajar mengeja tidak sesulit dalam bahasa Inggris karena hampir tiap huruf memiliki bunyi sendiri-sendiri dan tidak banyak yang berubah jika huruf-huruf tersebut tersusun dalam bentuk kata-kata. Dalam bahasa Inggris bunyi huruf “o” akan berubah untuk kata “on”, “one”, “mother”, dan “to”. Dalam bahasa Indonesia bunyi huruf “o” akan sama untuk kata “orang”, “sawo”, dan “soto”. Meskipun bunyi huruf “o” untuk “orang” berbeda dari bunyi “o” untuk “lorong”.
Mengeja adalah suatu bidang yang tidak memungkinkan adanya kreativitas atau berpikir divergen. Hanya ada satu pola susunan huruf-huruf untuk suatu kata yang dapat dianggap benar, tidak ada kompromi. Sekelompok huruf yang sama akan memiliki makna yang berbeda jika disusun secara berbeda. Menurut Lerner (1985: 406), ada dua cara untuk mengajarkan mengeja, yaitu: (1) mengeja melalui pendekatan linguistik dan (2) mengeja melalui pendekatan kata-kata. Pendekatan linguistik menenkankan pada aturan-aturan dalam bahasa sehingga harus memperhatikan fonologi, morfologi, dan sintaksis atau pola-pola kata.
Kesulitan mengeja dapat terjadi jika anak tidak memiliki memori yang baik tentang huruf-huruf. Memori dapat berkaitan dengan memori visual untuk mengenal bentuk-bentuk huruf dan atau memori auditif untuk mengenal bunyi-bunyi huruf. Gangguan persepsi visual dapat menyebabkan anak sukar membedakan huruf-huruf yang bentuknya hampir sama, dan akibat dari kesukaran tersebut anak juga sukar untuk membedakan nama-nama huruf. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai anak yang mampu mengeja huruf-huruf dari suatu kata tetapi tidak mampu membaca rangkaian huruf yang membentuk kata. Hal semacam ini tentu saja bukan tergolong kesulitan mengeja tetapi sudah merupakan kesulitan membaca.
c. Menulis Ekspresif
Yang dimaksud dengan menulis ekspresif adalah mengungkapkan pikiran dan atau perasaan ke dalam suatu bentuk tulisan, sehingga dapat dipahami oleh orang lain yang sebahasa. Menulis ekspresif disebut juga mengarang atau komposisi (Hallahan, et al, 1985: 143).
Kesulitan menulis ekspresif mungkin yang paling banyak dialami, baik oleh anak maupun orang dewasa. Agar dapat menulis ekspresif seseorang harus lebih dahulu memiliki kemampuan berbahasa ujaran, membaca, mengeja, menulis dengan jelas, dan memahami berbagai aturan yang berlaku bagi suatu jenis penulisan. Menurut Roit dan McKeinze yang dikutip Lovitt (1989: 252), ada tiga alasan yang menyebabkan kesulitan menulis ekspresif. Pertama, meskipun pendekatan analisis tugas mungkin sesuai untuk pengajaran matematika, dan mungkin juga membaca, pendekatan ini tidak sesuai untuk mengembangkan kemampuan menulis. Kedua, meskipun anak memperoleh banyak latihan tentang elemen-elemen menulis, mereka tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk menulis ekspresif. Ketiga, karena anak berkesulitan belajar kurang memiliki keterampilan metakognitif bila dibandingkan dengan anak yang tidak berkesulitan belajar.
Berdasarkan tiga alasan tersebut, Roit dan McKenzie mengemukakan tiga saran dalam menyusun program pengajaran menulis ekspresif, sebagai berikut:
1) guru hendaknya sensitif terhadap akibat sikap negatif anak berkesulitan belajar terhadap menulis. Guru hendaknya hendaknya juga membantu anak agar mereka menyadari bahwa menulis. Guru hendaknya juga membantu anak agar mereka menyadari bahwa menulis atau mengarang merupakan sesuatu yang menuntut keaktifan, proses eksploratoris, dan pengorganisian pikiran.
2) Guru hendaknya menyusun suatu jadwal menulis dalam situasi dan konteks yang bervariasi untuk membantu anak dalam membuat generalisasi.
3) Guru hendaknya menggunakan aktivitas yang berorientasi pada upaya membangkitkan rasa ingin tahu, semangat, prediksi dan sebagainya.
Dalam menyusun rancangan pembelajaran menulis ekspresif bagi anak berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar, Hansen yang dikutip Lovitt (1989: 251), menyarankan agar mencakup hal-hal berikut:
1) menulis perintah dan pemberitahuan;
2) menulis laporan tentang artikel atau cerita;
3) merangkum bacaan, pembicaraan, laporan tertulis, dan diskusi kelas;
4) menulis pengalaman pribadi;
5) menulis karangan imajinatif;
6) menulis surat untuk tujuan sosial dan bisnis;
7) menulis untuk majalah atau koran sekolah;
8) menulis untuk mengorganisasikan dan mengembangkan ide; dan
9) menulis peringatan untuk diri sendiri dan orang lain.
2. Assesmen Kesulitan Belajar Menulis
Ada dua jenis assesmen yang seharusnya digunakan untuk mengetahui kesulitan belajar menulis, yaitu assesmen formal dan informal. Di negara kita, assesmen formal untuk kesulitan menulis boleh dikatakan belum dikembangkan. Ada dua penyebab assesmen formal tersebut belum dikembangkan. Pertama, kajian tentang kesulitan belajar itu sendiri masih berada pada tahap permulaan. Kedua, melakukan adaptasi berbagai instrumen assesmen dari negara lain yang telah mengembangkan.
a. Assesmen Kesulitan Menulis dengan Tangan (Menulis Permulaan)
Untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan menulis tangan, guru dapat melakukan observasi terhadap berbagai kemampuan sebagai berikut:
1) menulis dari kiri ke kanan;
2) memegang pensil dengan benar;
3) menulis nama panggilannya sendiri;
4) menulis huruf-huruf;
5) menyalin kata-kata dari papan tulis ke buku atau ke kertas; dan
6) menulis pada garis yang tepat.

b. Assesmen Kesulitan Mengeja
Untuk mengetahui kemampuan anak dalam mengeja dapat dilihat adanya berbagai kesalahan pada tulisan mereka. Adapun berbagai kesalahan yang sering dilakukan oleh anak-anak dalam mengeja, adalah:
1) pengurangan huruf (bekerja ditulis bekrja)
2) mencerminkan dialek (sapi ditulis sampi)
3) mencerminkan kesalahan ucap (namun ditulis nanum)
4) pembalikan huruf dalam kata (ibu ditulis ubi)
5) pembalikan konsonan (air ditulis ari)
6) pembalikan konsonan atau vokal (berjalan ditulis bejralan)
7) pembalikan suku kata (laba ditulis bala).
c. Assesmen Kesulitan Menulis Ekspresif
Untuk mengetahui kemampuan menulis ekspresif anak-anak SD, Johnson yang dikutip Lovitt (1989: 254) telah mengembangkan instrumen informal yang meminta anak-anak menuliskan suatu cerita yang mencakup bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Berdasarkan tulisan tersebut, guru melakukan evaluasi berdasarkan:
1) panjang karangan;
2) ejaan, tanda baca dan tata bahasa;
3) kematangan dan keabstrakan tema;
4) bentuk tulisan tangan dan huruf; dan
5) panjang kalimat dan perkembangan perbendaharaan kata.
Poteet yang dikutip Lovitt (1989: 255) juga mengembangkan instrumen assesmen kemampuan menulis ekspresif. Instrumen yang berbentuk daftar cek tersebut mencakup: (1) keindahan tulisan; (2) ejaan; (3) tata bahasa; dan (4) ideasi.


3. Remedial Pembelajaran Kesulitan Belajar Menulis
Ada tiga jenis remedial pembelajaran kesulitan belajar menulis, yaitu: (1) remedial menulis permulaan dan menulis dengan tangan; (2) remedial mengeja; dan (3) remedial menulis ekspresif.
a. Remedial Menulis Permulaan atau Menulis dengan Tangan
Bermacam aktivitas yang menurut Lerner (1988: 422) dapat digunakan untuk membantu anak berkesulitan belajar menulis dengan tangan, seperti dikemukakan berikut ini.
1) Aktivitas menggunakan papan tulis. Aktivitas ini dilakukan sebelum pelajaran menulis yang sesungguhnya. Kepada anak disediakan papan tulis dan kapur; dan pada papan tulis tersebut, anak diberi kebebasan untuk menggambar garis, lingkaran, bentuk-bentuk geometri, angka, dan sebagainya. Aktivitas tersebut dapat melibatkan motorik kasar dan halus. Kegunaan aktivitas ini adalah untuk mematangkan motorik kasar, motorik halus, dan koordinasi mata-tangan yang merupakan keterampilan prasyarat dalam belajar menulis.
2) Bahan-bahan lain untuk latihan gerakan menulis. Selain papan tulis, ada bahan-bahan lain yang dapat digunakan untuk melatih gerakan menulis, yang mencakup motorik kasar maupun motorik halus. Bahan-bahan tersebut antara lain adalah kertas yang ditempel pada papan atau dengan menggunakan bak pasir. Pada kertas atau bak pasir tersebut, anak dapat berlatih membuat angka, huruf, atau bentuk-bentuk geometri. Tujuannya yaitu melatih gerakan menulis yang erat kaitannya dengan kematangan motorik halus dan koordinasi mata-tangan.
3) Posisi. Untuk latihan menulis, anak hendaknya disediakan kursi yang nyaman dan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang. Kedua tangan anak diletakkan di atas meja, tangan yang satu untuk menulis dan tangan yang lain untuk memegang kertas bagian atas.
4) Kertas. Posisi kertas untuk menulis cetak sejajar dengan sisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak yang menggunakan tangan kanan, dan 60 derajat ke kanan bagi anak yang menggunakan tangan kiri atau kidal.
5) Memegang pensil. Banyak anak berkesulitan belajar menulis yang memegang pensil dengan cara yang tidak benar. Untuk memegang pensil yang benar, ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah pensil, dan pensil dipegang agak sedikit di atas bagian yang diraut.
6) Kertas Stensil dan Karton. Kepada anak diberikan kertas stensil yang sudah digambari berbagai bentuk. Letakkan kertas polos di atas meja, letakkan karbon di atasnya, dan kemudian letakkan kertas stensil bergambar di atas karbon tersebut, diklip dan selanjutnya anak diminta untuk mengikuti gambar dalam pensil.
7) Menjiplak. Buat bentuk atau tulisan dengan warna hitam tebal di atas kertas yang agak tebal, letakkan di atasnya selembar kertas tipis, dan suruh anak menjiplak bentuk atau tulisan tersebut.
8) Menggambar di antara dua garis. Kepada anak diberikan selembar kertas bergaris dan anak diminta membuat “jalan” yang mengikuti atau memotong garis-garis tersebut. Selanjutnya, anak diminta menulis berbagai angka dan huruf di antara garis-garis secara tepat.
9) Titik-titik. Guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh dan huruf yang terbuat dari titik-titik. Selanjutnya, anak diminta untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh.
10) Menjiplak dengan semakin dikurangi. Pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak diminta untuk menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk meneruskan penulisan.
11) Buku bergaris tiga. Buku bergaris tiga sering disebut juga buku tipis tebal. Dengan buku bergaris semacam itu, anak dapat berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar. Garis dapat diberi warna yang mencolok untuk meningkatkan perhatian anak.
b. Remedial Mengeja
Ada beberapa metode pengajaran remedial bagi anak berkesulitan belajar mengeja, yakni sebagai berikut:
1) Persepsi dan Memori Auditoris bunyi-bunyi huruf. Berikan kepada anak latihan untuk mendengarkan bunyi-bunyi huruf, berikan penekanan pada pengetahuan tentang bunyi-bunyi bahasa dan analisis susunannya, dan kembangkan pula keterampilan untuk menggunakan bunyi-bunyi bahasa secara umum.
2) Persepsi dan memori visual huruf-huruf. Berikan kepada anak latihan persepsi dan memori visual huruf-huruf sehingga anak-anak dapat mengenal dan mengingat bentuk-bentuk huruf tersebut.
3) Penggunaan Metode Multisensori, yang meliputi penggunaan cara-cara seperti: (a) mengartikan dan mengucapkan; (b) mengkhayalkan; (c) mengingat kembali; (d) menganalisis kata; (d) menguasai.
4) Metode Fernald, merupakan pendekatan multisensori untuk mengajar membaca, menulis, dan mengeja.
5) Metode “tes – belajar – tes” lawan metode “belajar – tes”. Metode “tes – belajar – tes”, dimulai dengan memberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan anak, setelah itu anak diajar, dan kemudian dites lagi. Sedangkan metode “belajar – tes” dimulai dari mengajarkan kata lebih dahulu baru kemudian melakukan tes untuk mengetahui penguasaan anak.
6) Mengeja kata dari proyektor film strip. Guru menulis kata-kata yang akan dieja pada transparansi. Kata-kata tersebut selanjutnya diletakkan di atas OHP dan ditutup dengan kertas yang memiliki “jendela” yang dapat dibuka dan ditutup.
7) Mengeja melalui tape recorder. Pengajaran mengeja dapat dilakukan dengan menggunakan tape recorder. Anak yang sudah dapat belajar sendiri, dapat melakukannya di laboratorium bahasa.
8) Menirukan kesalahan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengulang kesalahan anak sebelum memperbaiki-nya dapat memberikan keuntungan kepada anak. Melalui metode ini, anak disadarkan dari kesalahannya, baru kemudian diperbaiki. Dengan demikian, anak dapat membedakan antara respons yang salah dengan respons yang benar.
c. Remedial Menulis Ekspresif
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam melaksanakan remedial pembelajaran kesulitan menulis ekspresif, sebagai berikut:
1) Memberikan kesempatan kepada anak untuk banyak menulis.
2) Menempatkan anak dalam suasana kehidupan yang gemar menulis.
3) Biarkan anak memilih topik tulisannya sendiri.
4) Model penulisan dan berpikir yang strategis.
5) Mengembangkan berpikir reflektif.
6) Transfer kepemilikan dan kontrol penulisan siswa.



Tips Cara Memilih Makanan yang Sehat

Berikut 10 tips cara memilih makanan sehat dan masih tetap dapat menikmati makan enak.
 
1.      Makan Makanan Kaya Nutrisi
Anda membutuhkan 40 jenis nutrisi berbeda untuk mendapatkan tubuh sehat, dan itu tak bisa didapatkan dalam satu jenis makanan. Makanan sehari-hari yang Anda santap seharusnya memasukkan juga roti dan produk padi-padian penuh lainnya. Lengkapi pula dengan buah-buahan, sayuran, produk susu dan daging, ikan dan makanan berprotein lainnya. Seberapa banyak makanan yang Anda butuhkan tergantung dari kebutuhan kalori.
2.      Pilih Berbagai Jenis Padi-Padian Penuh, Buah dan Sayur
Menurut survey kebanyakan orang tak cukup makan makanan jenis ini. Apakah dari 6-11 makanan yang Anda makan, mulai dari roti, nasi, sereal dan pasta, 3 di antaranya padi-padian penuh? Apa Anda memakan buah-buahan dan 3-5 porsi sayuran? Jika Anda menjawab tidak, mulai biasakan melakukannya. Untuk membuat makanan ini terasa lezat disantap, coba beli buku resep untuk memasak berbagai jenis sayuran.
3.      Menjaga Berat Badan
Berat badan ideal Anda tergantung dari beberapa hal termasuk faktor jenis kelamin, tinggi, usia dan keturunan. Kelebihan berat badan mengurangi kelancaran aliran darah, mempertinggi kemungkinan terkena sakit jantung, stroke, diabetes dan beberapa jenis kanker. Tetapi terlalu kurus juga dapat meningkatkan resiko terkena osteoporosis, ketidaklancaran menstruasi dan masalah kesehatan lainnya.
Jika Anda kehilangan berat badan dan jadi gemuk terus menerus secara bergantian, melakukan diet teratur dapat membantu Anda mengembangkan pola makan seimbang untuk memanajemen berat badan. Latihan secara teratur juga penting untuk menjaga kesehatan.
4.      Makan Dalam Porsi Cukup
Jika Anda menjaga ukuran porsi makan secara layak, lebih mudah untuk menyantap makanan apa saja yang Anda suka dan tetap sehat. Tahu kah Anda kalau porsi daging masak yang direkomendasikan hanya 3 ons? Seporsi buah dan satu mangkuk pasta dianggap sebagai porsi seimbang untuk menjaga kesehatan. Satu gelas es krim sama dengan makan 4 porsi.
5.      Makan Secara Teratur
Melewatkan jam makan malah akan membuat Anda susah mengontrol rasa lapar, dan ini mendorong Anda makan berlebihan. Saat Anda merasa sangat lapar, biasanya cenderung makan apa saja tanpa memperhatikan nutrisi. Ngemil di antara jam makan juga membantu mengurangi rasa lapar, tapi jangan banyak-banyak bisa-bisa Anda kebanyakan ngemil dan meninggalkan makan inti.
6.      Kurangi, Bukan Meninggalkan Makan
Kebanyakan orang makan demi kesenangan. Jika makanan favorit Anda makanan berlemak, tinggi garam atau gula, kunci untuk tetap sehat adalah makan secukupnya dan seberapa sering Anda memakannya. Kenali isi dari makanan yang Anda makan dan buat perubahan, jika itu memang diperlukan. Bagi orang dewasa yang makan daging merah atau produk susu di setiap kali makan, sebaiknya dikurangi.
Gunakan panel fakta nutrisi di label makanan sebagai panduan. Pilih produk susu tanpa lemak atau rendah lemak dan kurangi makan daging. Kalau Anda penggemar ayam goreng, tak jadi masalah. Kurangi seringnya Anda makan. Saat makan bersama teman, tawarkan untuk berbagi.
7.      Pilih Makanan Seimbang
Tidak semua jenis makanan harus ‘sempurna.’ Saat makan makanan tinggi lemak, garam atau gula, pilih makanan lain yang memiliki isi lebih rendah. Jika Anda melewatkan beberapa jenis makanan dalam satu hari, ganti di hari berikutnya. Usahakan memilih makanan yang saling melengkapi gizi dan nutrisi dari hari ke hari.
8.      Kenali Perangkap Makanan
Untuk memperbaiki pola makan, yang pertama harus Anda ketahui adalah apa yang salah dengan hal itu. Tulis setiap makanan yang Anda makan selama tiga hari. Lalu periksa daftarnya dan cocokan dengan semua tips di atas. Apa Anda terlalu banyak ngemil, atau terlalu banyak makan-makanan berlemak? Jangan meninggalkan makanan ini, hanya kurangi porsinya. Apa Anda sudah cukup makan buah dan sayur? Jika belum tambahkan lah.
9.      Buat Perubahan Secara Berkala
Tak ada ‘makanan super’ atau jawaban mudah untuk diet sehat, jangan berharap dapat mengubah pola makan Anda hanya dalam waktu semalam. Mulai lah dengan niat melakukan hidup sehat dan melakukan perubahan secara bertahap, dan bertahan untuk sepanjang hidup. Untuk penyesuaian, jika Anda tak suka susu tanpa lemak, mulai lah dengan memilih susu rendah lemak, sampai suatu hari Anda mungkin akan menyukai juga susu tanpa lemak.
10.  Ingat, Tak Ada Makanan Baik Atau Buruk
Pilih jenis makanan sesuai dengan kebutuhan total Anda, bukan berdasarkan makanan yang ‘baik’ atau ‘buruk.’ Jangan merasa bersalah jika Anda sangat menyukai makanan seperti kue pie, kripik kentang, cokelat atau es krim. Tetap makan apa yang Anda sukai, tapi ingat, secukupnya saja. Dan pilih makanan lain sebagai penyeimbang.

TUGAS PROFESI KEPENDIDIKAN

BAB V
PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN

A.       Mengembangkan Pendekatan Pembelajaran
Terdapat 5 pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk dapat mengajar dengan baik yaitu :
1.         Pendekatan Kompetensi
Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran,kompetensi menunjuk kepada perbuatan (performance) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Dikatakan perbuatan karena merupakan perilaku yang dapat diamati meskipun sebenarnya seringkali terlihat pula proses yang tidak Nampak seperti pengambilan keputusan/pilihan sebelum perbuatan dilakukan.
         Terdapat 3 landasan teoretis yang mendasari pendidikan berdasarkan pendekatan kompetensi :
a)            Adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual.
b)            Pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penugasan (learning for mastery) adalah suatu falsafah tentang pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan system pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan hasil yang baik dari seluruh bahan yang di berikan.
c)            Carrol dalam Hall (1986) menyatakan bahwa dengan waktu yang cukup semua pesereta didik dapat mencapai penguasaan suatu tugas belajar.perkembangan pendidikan berdasarkan kompetensi adalah usaha penyusunan kembali defenisi bakat.
Dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran berdasarkan pendekatan kompetensi, Ashan (1981) mengemukakan 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu :
Ø   Kompetensi yang ingin dicapai merupakan pernyataan tujuan (goal statement) yang hendak diperoleh peserta didik serta menggambarkan hasil belajar (learning outcomes) pada aspek pengetahuan ,keterampilan ,nilai dan sikap.
Ø   Strategi mencapai kompetensi (the enabling strategy), merupakan strategi untuk membantu peserta didik dalam menguasai kompetensi yang di tetapkan. Misalnya dibuat sejumlah alternative kegiatan seperti : membaca mendengarkan, berkreasi, berinteraksi, observasi, dan sebagainya sampai terbentuk suatu kompetensi.
Ø   Evaluasi dilakukan untuk menggambarkan perilaku hasil belajar (behavioral outcomes) dengan respon pesrta didik yang dapat diberikan berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar.
Pembelajaran dengan pendekatan kompetensi dapat dilakukan dengan langkah-langkah umum sebagai berikut :
a.    Tahap perencanaan
Berdasarkan kompetensi – kompetensi tersebut selanjutnya dikembangkan tema, subtema, dan topik-topik mata pelajaran yang akan diajarkan.
b.   Pelaksanaan pembelajaran
Merupakan suatu rangkaian pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan yang meliputi tahap persiapan, penyajian, aplikasi, dan penilaian.
c.    Evaluasi dan penyempurnaan
Evaluasi dilakukan untuk menggambarkan perilaku hasil belajar (behavioral outcomes) dengan respon peserta didik yang dapat di berikan berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar. Evaluasi mengandung nilai-nilai yang dapat di gunakan untuk menentukan kualitas atau derajat pencapaian kompetensi yang ditetapkan.




2.         Pendekatan keterampilan proses
Merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas dan kreativitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator-indikator pendekatan keterampilan proses antara lain : kemampuan mengidentifikasi, mengklasifikasi, menghitung, mengukur, mengamati, mencari hubungan, menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan, mengkomunikasikan, dan mengekspresikan diri dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.
Kemampuan-kemampuan yang menunjukkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat dilihat melalui partisipasi dalam kegiatan pembelajaran berikut :
Ø   Kemampuan bertanya.
Ø   Kemampuan melakukan pengamatan.
Ø   Kemampuan mengidentifikasi dan mengklasifikasi hasil pengamatan.
Ø   Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi.
Ø   Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh pengalaman secara langsung.
Ø   Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian.
Ø   Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah dikuasai dalam suatu situasi baru.
Ø   Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil penelitian
Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
v   Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena adanya tujuan yang ingin dicapai (asas motivasi).
v   Keaktifan peserta didik akan berkembang jika dilandasi dengan pendayagunaan potensi yang dimilikinya.
v   Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktivitas peserta didik.
v   Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adlah memberikan kemudahan belajar melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan.
3.           Pendekatan lingkungan
Berkaitan dengan pendekatan lingkungan ini,UNESCO (1980) mengemukakan jenis-jenis lingkungan yang dapat didayagunakan oleh peserta didik untuk kepentingan pembelajaran :
a)         Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosioekonomi, dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, dan berinteraksi dengan kehidupan peserta didik.
b)         Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada dalam suatu kelompok masyarakat.
c)         Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran.
Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan 2 cara :
Ø  Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran.
Ø  Membawa sumber-sumber belajar dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran.
4.         Pendekatan kontekstual
CTL merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan implementasi kurikulum 2004.
Nurhadi (2002:4) mengemukakan pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual sebagai berikut :
v   Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.
Dari “guru akting di depan kelas, siswa menonton” ke “siswa aktif bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”.
v   Pembelajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara’ siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
v   Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar
v   Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

Zahorik (1995) mengungkapkan 5 elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual sebagai berikut : 
Ø   Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Ø   Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian –bagiannya secara khusus ( dari umum ke khusus ).
Ø   Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara :
-        Menyusun konsep sementara
-        Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain.
-        Merevisi dan mengembangkan konsep  
Ø   Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari
Ø   Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari

5.         Pendekatan Tematik ( Thematic Approach )
Pendekatan tematik (Thematic Approach) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam implementasi kurikulum 2004, terutama ditaman kanak – kanak dan raudhatul athfal (TK dan RA), serta pada kelas rendah disekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD dan MI).
Beberapa prinsip belajar menurut psikologi gestalt antara lain :
a.    Dasar situasi belajar secara keseluruhan, ditentukan oleh adanya keterpaduan antara berbagai bagian, bukan oleh bagian – bagian yang terpisah.
b.   Bagian – bagian dari situasi belajar hanya mengandung arti apabila berhubungan dengan situasi belajar secara keseluruhan.
c.    Faktor yang memadukan bagian - bagian situasi belajar adalah motivasi peserta didik atas dorongan guru.
d.   Adanya efek keterpaduan yang timbul merupakan interaksi antar berbagai bagian situasi dalam belajar.
Dari prinsip – prinsip gestalt tersebut, pendekatan tematik bertujuan :
1.      Membentuk pribadi yang harmonis dan sanggup bertindak dalam menghadapi berbagai situasi yang memerlukan keterampilan pribadi.
2.      Menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan peserta didik.
3.      Memperbaiki dan mengatasi kelemahan – kelemahan yang terdapat pada metode mengajar hafalan (Oemar Hamalik, 1982).

Pelaksanaan pendekatan tematik secara optimal perlu ditunjang oleh kondisi sekolah sebagai berikut :
a.    Guru mesti berpartisipasi dalam sebuah tim serta mempunyai tanggung jawab untuk menyukseskan tujuan tim.
b.   Guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan program pembelajaran tematis pada jadwal yang telah ditentukan.
c.    Peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pendekatan tematik harus tersedia, baik dilingkungan sekolah maupun berupa pinjaman dari luar.
d.   Pelaksanaan pendekatan tematik harus ada dalam struktur sekolah, sehingga guru dapat menggunakan berbagai sarana sekolah yang diperlukan.

B.        Memilih Metode Pembelajaran Yang Efektif
1.      Metode demonstrasi
Agar pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi berlangsung secara efektif, langkah – langkah yang dianjurkan adalah sebagai berikut :
a.       Lakukanlah perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai.
b.      Rumuskanlah tujuan pembelajaran dengan metode demonstrasi, dan pilihlah materi  yang tepat untuk didemonstrasikan.
c.       Buatlah garis besar langkah – langkah demostrasi, akan lebih efektif jika yang dikuasai dan dipahami baik oleh peserta didik maupun oleh guru.
d.      Tetapkanlah apakah demonstrasi tersebut akan dilakukan guru atau oleh peserta didik, atau oleh guru kemudian diikuti peserta didik.
e.       Mulailah demonstrasi dengan menarik perhatian seluruh peserta didik, dan ciptakanlah suasana yang tenang dan menyenangkan.
f.       Upayakanlah agar semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
g.      Lakukanlah evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik tehadap efektivitas metode demonstrasi maupun terhadap hasil belajar peserta didik

2.      Metode Inquiri
Inquiri berasal dari bahasa inggris “ inquiry”, yang secara harfiah berarti penyelidikan. Metode inquiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
Ø  Mengajukan pertanyaan – pertanyaan tentang fenomena alam.
Ø  Merumuskan masalah yang ditemukan.
Ø  Merumuskan hipotesis
Ø  Merancang dan melakukan eksperimen
Ø  Mengumpulkan dan menganalis data
Ø  Menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah yakni : objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Sund and Trowbridge (1973), mengemukakan tiga macam metode inquiri sebagai berikut :
a.      Inquiri terpimpin ( Guide Inquiry ) : peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan.
b.      Inquiri bebas ( Free Inquiry ) : peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan.
c.       Inquiry bebas yang dimodifikasi ( Modified Free Inquiry ) : guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian pesarta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.

3.      Metode Penemuan
Langkah – langkah cara mengajar dengan metode penemuan :
a.       Adanya masalah yang akan dipecahkan.
b.      Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif  peserta didik.
c.       Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d.      Harus tersedia alatdan bahan yang diperlukan.
e.       Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pkiran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
f.       Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data.
g.      Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan peserta didik.

4.      Metode eksperimen
Hal – hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode eksperimen adalah sebagai berikut :
a.       Tetapkan tujuan eksperimen.
b.      Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
c.       Persiapkan tempat eksperimen
d.      Pertimbangkan jumlah peserta didik sesuai dengan alat – alat yang tersedia
e.       Perhatikan keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindarkan resiko yang merugikan atau berbahaya
f.       Perhatikan disiplin atau tata tertib terutama dalam menjaga peralatan dan bahan yang akan digunakan
g.      Berikan penjelasan tentang apa yang harus diperhatikan dan tahapan – tahapn yang mesti dilakukan peserta didik termasuk yang dilarang dan membahayakan.


5.      Metode Pemecahan masalah
Langkah – langkah  metode pemecahan masalah :
Ø  Merasakan adanya masalah – masalah yang potensial
Ø  Merumuskan masalah
Ø  Mencari jalan keluar
Ø  Memilih jalan keluar yang paling tepat
Ø  Melaksanakan pemecahan masalah
Ø  Menilai apakah pemecahan masalah yang dilakukan sudah tepat atau belum.

6.      Metode karyawisata
Sebelum karyawisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode belajar-mengajar , hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
v    Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar-mengajar.
v    Mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah.
v    Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai pedagogis
v    Menghubungkan sumber belajar  dengan kurikulum, apakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karyawisata dapat dilaksanakan.
v    Membuat dan mengembangkan program karyawisata secara logis dan sistematis.
v    Melaksanakan karyawisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, materi pelajaran,efek instruksional dan pengiring, iklim yang kondusif.
v    Menganalisis apakah tujuan karyawisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan karyawisata akan datang.

         
7.      Metode perolehan konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan, konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (Building Block) berpikir. Perolehan konsep menurut Ausubel (1968) diperoleh dengan dua cara yakni konsep formasi merupakan bentuk peroleh konsep sebelum peserta didik masuk sekolah dan konsep asimilasi merupakan cara-cara untuk memperoleh konsep selama dan sesudah sekolah.

8.      Metode penugasan
Langkah-langkah yang harus diperhatikan agar metode penugasan dapat berlangsung secara efektif :
a.       Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya.
b.      Tugas yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain.
c.       Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut, terutama kalau tugas tersebut diselesaikan diluar kelas.
d.      Perlu diupyakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik
e.       Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas – tugas yang dikerjakan peserta didik.

9.      Metode Ceramah
Hal – hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode caramah adalah :
Ø  Rumuskan tujuan instruksional khusus, mengembangkan pokok – pokok materi belajar mengajar dan mengkajinya apakah hal tersebut dapat diceramahkan.
Ø  Apabila akan divariasikan dengan metode lain, perlu dipikirkan apa yang akan disampaikan melalui ceramah dan apa yang akan disampaikan dengan metode lainnya.
Ø  Siapkan alat peraga atau media pelajaran secara matang, alat peraga atu media apa yang akan digunakan, bagaimana menggunakannya dan kapan akan digunakan.
Ø  Perlu dibuat garis besar bahan yang akan diceramahkan minimal berupa catatan kecil yang akan dijadikan pegangan guru pada waktu berceramah.
Hal – hal yang perlu diperhatikan guru pada waktu mengajar dengan menggunakan metode ceramah :
a.       Guru akan menjadi satu – satunya pusat perhatian.
b.      Untuk mengarahkan perhatian peserta didik, ceramah sebaiknya dimulai dengan menyampaikan tujuan pengajaran yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran.
c.       Sampaikan garis besar bahan ajar, baik secara lisan maupun tertulis.
d.      Hubungkan materi pelajaran yang akan disampaikan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh para peserta didik.
e.       Mulailah dari hal – hal yang umum menuju hal – hal yang khusus, dari hal – hal yang sederhana menuju hal – hal yang rumit.
f.       Selingilah dengan contoh yang erat kaitannya dengan kehidupan peserta didik sekali – kali lakukanlah humor yang menunjang pembelajaran.
g.      Arahkan perhatian pada seluruh peserta didik dan jangan melakukan gerakan – gerakan yang bisa mengganggu kelancaran pembelajaran.
h.      Gunakan alat peraga / media yang sesuai dengan bahan yang diceramahkan.
i.        Kontrollah agar pembicaraan tidak monoton, lakukanlah penekanan – penekanan pada materi tertentu.




10.  Metode Tanya jawab

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode Tanya jawab adalah sebagai berikut :
v  Guru perlu menguasai bahan secara penuh, jangan sekali – kali mengajukan pertanyaan yang guru sendiri tidak memahaminya atau tidak tahu jawabannya.
v  Siapkanlah pertanyaan – pertanyaan yang akan diajukan kepada peserta didik sedemikian rupa, agar pembelajaran tidak menyimpang dari bahan yang sedang dibahas, mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran dan sesuai dengan kemampuan berpikir peserta didik.

Pertanyaan yang baik memiliki kriteria sebagai berikut :
a.       Memberi acuan adalah suatu bentuk pertanyaan yang sebelumnya diberikan uraian singkat tentang apa – apa yang akan ditanyakan, jadi pertanyaan tersebut merupakan kelanjutan dari ceramah atau cerita guru
b.      Memusatkan jawaban, pertanyaan – pertanyaan yang diajukan perlu dipusatkan pada apa – apa yang menjadi tujuan kegiatan pembelajaran.
c.       Memberi tuntunan, guru dapat menuntun peserta didik dengan pertanyaan – pertanyaan yang menuntun mereka pada jawaban yang benar.
d.      Melacak jawaban peserta didik, guru mengajukan beberapa pertanyaan kembali meskipun jawaban atas pertanyaan pertama sudah benar.

11.  Metode diskusi
Diskusi dapat diartikan sebagai percakapan responsif yang dijalin oleh petanyaan – pertanyaan problematis yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalah.
Agar proses pembelajaran dengan metode diskusi berjalan lancar, dan menghasilkan tujuan belajar secara efektif, perlu diperhatikan langkah – langkah berikut :
a.       Rumuskanlah tujuan dan masalah yang akan dijadikan topik diskusi.
b.      Siapkanlah sarana dan prasarana yang diperlukan untuk diskusi.
c.       Susunlah peranan – peranan peserta didik dalam diskusi, sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilakukan.
d.      Berilah pengarahan kepada peserta didik secukupnya agar melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan diskusi.
e.       Ciptakanlah suasana yang kondusif sehingga peserta didik dapat mengemukakan pendapat secara bebas untuk memecahkan masalah yang didiskusikan.
f.       Berikanlah kesempatan kepada peserta didik secara merata agar diskusi tidak didominasi oleh beberapa orang saja.
g.      Sesuaikan penyelenggaraan diskusi dengan waktu yang tersedia.
h.      Sadarilah akan peranan guru dalam diskusi, baik sebagai fasilitator, pengawas, pembimbing, maupun sebagai evaluator jalannya diskusi.
i.        Akhirilah diskusi dengan mengambil kesimpulan dari apa – apa yang telah dibicarakan.

akatsuki member

akatsuki member
for the akatsuki lover

Cari Blog Ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More