Kesulitan belajar menulis sering disebut juga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut juga agrafia. Disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau simbol-simbol matematika. Disgrafia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau disleksia karena kedua jenis kesulitan tersebut sesungguhnya saling terkait.
Menurut Hagin (Lovitt, 1989: 227),
tulisan sambung memudahkan anak untuk mengenal kata-kata sebagai satu kesatuan
Mengeja adalah suatu bidang yang tidak memungkinkan adanya kreativitas atau berpikir divergen. Hanya ada satu pola susunan huruf-huruf untuk suatu kata yang dapat dianggap benar, tidak ada kompromi. Sekelompok huruf yang sama akan memiliki makna yang berbeda jika disusun secara berbeda. Menurut Lerner (1985: 406), ada dua cara untuk mengajarkan mengeja, yaitu: (1) mengeja melalui pendekatan linguistik dan (2) mengeja melalui pendekatan kata-kata. Pendekatan linguistik menenkankan pada aturan-aturan dalam bahasa sehingga harus memperhatikan fonologi, morfologi, dan sintaksis atau pola-pola kata.
Kesulitan mengeja dapat terjadi jika anak tidak memiliki memori yang baik tentang huruf-huruf. Memori dapat berkaitan dengan memori visual untuk mengenal bentuk-bentuk huruf dan atau memori auditif untuk mengenal bunyi-bunyi huruf. Gangguan persepsi visual dapat menyebabkan anak sukar membedakan huruf-huruf yang bentuknya hampir sama, dan akibat dari kesukaran tersebut anak juga sukar untuk membedakan nama-nama huruf. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai anak yang mampu mengeja huruf-huruf dari suatu kata tetapi tidak mampu membaca rangkaian huruf yang membentuk kata. Hal semacam ini tentu saja bukan tergolong kesulitan mengeja tetapi sudah merupakan kesulitan membaca.
c. Menulis Ekspresif
Yang dimaksud dengan menulis ekspresif adalah mengungkapkan pikiran dan atau perasaan ke dalam suatu bentuk tulisan, sehingga dapat dipahami oleh orang lain yang sebahasa. Menulis ekspresif disebut juga mengarang atau komposisi (Hallahan, et al, 1985: 143).
Kesulitan menulis ekspresif mungkin yang paling banyak dialami, baik oleh anak maupun orang dewasa. Agar dapat menulis ekspresif seseorang harus lebih dahulu memiliki kemampuan berbahasa ujaran, membaca, mengeja, menulis dengan jelas, dan memahami berbagai aturan yang berlaku bagi suatu jenis penulisan. Menurut Roit dan McKeinze yang dikutip Lovitt (1989: 252), ada tiga alasan yang menyebabkan kesulitan menulis ekspresif. Pertama, meskipun pendekatan analisis tugas mungkin sesuai untuk pengajaran matematika, dan mungkin juga membaca, pendekatan ini tidak sesuai untuk mengembangkan kemampuan menulis. Kedua, meskipun anak memperoleh banyak latihan tentang elemen-elemen menulis, mereka tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk menulis ekspresif. Ketiga, karena anak berkesulitan belajar kurang memiliki keterampilan metakognitif bila dibandingkan dengan anak yang tidak berkesulitan belajar.
Berdasarkan tiga alasan tersebut, Roit dan McKenzie mengemukakan tiga saran dalam menyusun program pengajaran menulis ekspresif, sebagai berikut:
1) guru hendaknya sensitif terhadap akibat sikap negatif anak berkesulitan belajar terhadap menulis. Guru hendaknya hendaknya juga membantu anak agar mereka menyadari bahwa menulis. Guru hendaknya juga membantu anak agar mereka menyadari bahwa menulis atau mengarang merupakan sesuatu yang menuntut keaktifan, proses eksploratoris, dan pengorganisian pikiran.
2) Guru hendaknya menyusun suatu jadwal menulis dalam situasi dan konteks yang bervariasi untuk membantu anak dalam membuat generalisasi.
3) Guru hendaknya menggunakan aktivitas yang berorientasi pada upaya membangkitkan rasa ingin tahu, semangat, prediksi dan sebagainya.
Dalam menyusun rancangan pembelajaran menulis ekspresif bagi anak berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar, Hansen yang dikutip Lovitt (1989: 251), menyarankan agar mencakup hal-hal berikut:
1) menulis perintah dan pemberitahuan;
2) menulis laporan tentang artikel atau cerita;
3) merangkum bacaan, pembicaraan, laporan tertulis, dan diskusi kelas;
4) menulis pengalaman pribadi;
5) menulis karangan imajinatif;
6) menulis surat untuk tujuan sosial dan bisnis;
7) menulis untuk majalah atau koran sekolah;
8) menulis untuk mengorganisasikan dan mengembangkan ide; dan
9) menulis peringatan untuk diri sendiri dan orang lain.
2. Assesmen Kesulitan Belajar Menulis
Ada dua jenis assesmen yang seharusnya digunakan untuk mengetahui kesulitan belajar menulis, yaitu assesmen formal dan informal. Di negara kita, assesmen formal untuk kesulitan menulis boleh dikatakan belum dikembangkan. Ada dua penyebab assesmen formal tersebut belum dikembangkan. Pertama, kajian tentang kesulitan belajar itu sendiri masih berada pada tahap permulaan. Kedua, melakukan adaptasi berbagai instrumen assesmen dari negara lain yang telah mengembangkan.
a. Assesmen Kesulitan Menulis dengan Tangan (Menulis Permulaan)
Untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan menulis tangan, guru dapat melakukan observasi terhadap berbagai kemampuan sebagai berikut:
1) menulis dari kiri ke kanan;
2) memegang pensil dengan benar;
3) menulis nama panggilannya sendiri;
4) menulis huruf-huruf;
5) menyalin kata-kata dari papan tulis ke buku atau ke kertas; dan
6) menulis pada garis yang tepat.
b. Assesmen Kesulitan Mengeja
Untuk mengetahui kemampuan anak dalam mengeja dapat dilihat adanya berbagai kesalahan pada tulisan mereka. Adapun berbagai kesalahan yang sering dilakukan oleh anak-anak dalam mengeja, adalah:
1) pengurangan huruf (bekerja ditulis bekrja)
2) mencerminkan dialek (sapi ditulis sampi)
3) mencerminkan kesalahan ucap (namun ditulis nanum)
4) pembalikan huruf dalam kata (ibu ditulis ubi)
5) pembalikan konsonan (air ditulis ari)
6) pembalikan konsonan atau vokal (berjalan ditulis bejralan)
7) pembalikan suku kata (laba ditulis bala).
c. Assesmen Kesulitan Menulis Ekspresif
Untuk mengetahui kemampuan menulis ekspresif anak-anak SD, Johnson yang dikutip Lovitt (1989: 254) telah mengembangkan instrumen informal yang meminta anak-anak menuliskan suatu cerita yang mencakup bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Berdasarkan tulisan tersebut, guru melakukan evaluasi berdasarkan:
1) panjang karangan;
2) ejaan, tanda baca dan tata bahasa;
3) kematangan dan keabstrakan tema;
4) bentuk tulisan tangan dan huruf; dan
5) panjang kalimat dan perkembangan perbendaharaan kata.
Poteet yang dikutip Lovitt (1989: 255) juga mengembangkan instrumen assesmen kemampuan menulis ekspresif. Instrumen yang berbentuk daftar cek tersebut mencakup: (1) keindahan tulisan; (2) ejaan; (3) tata bahasa; dan (4) ideasi.
3. Remedial Pembelajaran Kesulitan Belajar Menulis
Ada tiga jenis remedial pembelajaran kesulitan belajar menulis, yaitu: (1) remedial menulis permulaan dan menulis dengan tangan; (2) remedial mengeja; dan (3) remedial menulis ekspresif.
a. Remedial Menulis Permulaan atau Menulis dengan Tangan
Bermacam aktivitas yang menurut Lerner (1988: 422) dapat digunakan untuk membantu anak berkesulitan belajar menulis dengan tangan, seperti dikemukakan berikut ini.
1) Aktivitas menggunakan papan tulis. Aktivitas ini dilakukan sebelum pelajaran menulis yang sesungguhnya. Kepada anak disediakan papan tulis dan kapur; dan pada papan tulis tersebut, anak diberi kebebasan untuk menggambar garis, lingkaran, bentuk-bentuk geometri, angka, dan sebagainya. Aktivitas tersebut dapat melibatkan motorik kasar dan halus. Kegunaan aktivitas ini adalah untuk mematangkan motorik kasar, motorik halus, dan koordinasi mata-tangan yang merupakan keterampilan prasyarat dalam belajar menulis.
2) Bahan-bahan lain untuk latihan gerakan menulis. Selain papan tulis, ada bahan-bahan lain yang dapat digunakan untuk melatih gerakan menulis, yang mencakup motorik kasar maupun motorik halus. Bahan-bahan tersebut antara lain adalah kertas yang ditempel pada papan atau dengan menggunakan bak pasir. Pada kertas atau bak pasir tersebut, anak dapat berlatih membuat angka, huruf, atau bentuk-bentuk geometri. Tujuannya yaitu melatih gerakan menulis yang erat kaitannya dengan kematangan motorik halus dan koordinasi mata-tangan.
3) Posisi. Untuk latihan menulis, anak hendaknya disediakan kursi yang nyaman dan meja yang cukup berat agar tidak mudah goyang. Kedua tangan anak diletakkan di atas meja, tangan yang satu untuk menulis dan tangan yang lain untuk memegang kertas bagian atas.
4) Kertas. Posisi kertas untuk menulis cetak sejajar dengan sisi meja, untuk menulis tulisan sambung 60 derajat ke kiri bagi anak yang menggunakan tangan kanan, dan 60 derajat ke kanan bagi anak yang menggunakan tangan kiri atau kidal.
5) Memegang pensil. Banyak anak berkesulitan belajar menulis yang memegang pensil dengan cara yang tidak benar. Untuk memegang pensil yang benar, ibu jari dan telunjuk di atas pensil, sedangkan jari tengah berada di bawah pensil, dan pensil dipegang agak sedikit di atas bagian yang diraut.
6) Kertas Stensil dan Karton. Kepada anak diberikan kertas stensil yang sudah digambari berbagai bentuk. Letakkan kertas polos di atas meja, letakkan karbon di atasnya, dan kemudian letakkan kertas stensil bergambar di atas karbon tersebut, diklip dan selanjutnya anak diminta untuk mengikuti gambar dalam pensil.
7) Menjiplak. Buat bentuk atau tulisan dengan warna hitam tebal di atas kertas yang agak tebal, letakkan di atasnya selembar kertas tipis, dan suruh anak menjiplak bentuk atau tulisan tersebut.
8) Menggambar di antara dua garis. Kepada anak diberikan selembar kertas bergaris dan anak diminta membuat “jalan” yang mengikuti atau memotong garis-garis tersebut. Selanjutnya, anak diminta menulis berbagai angka dan huruf di antara garis-garis secara tepat.
9) Titik-titik. Guru membuat dua jenis huruf, huruf yang utuh dan huruf yang terbuat dari titik-titik. Selanjutnya, anak diminta untuk menghubungkan titik-titik tersebut menjadi huruf yang utuh.
10) Menjiplak dengan semakin dikurangi. Pada mulanya guru menulis huruf utuh dan anak diminta untuk menjiplak huruf tersebut. Lama kelamaan guru yang menulis sebagian besar hingga sebagian kecil huruf tersebut dan anak diminta untuk meneruskan penulisan.
11) Buku bergaris tiga. Buku bergaris tiga sering disebut juga buku tipis tebal. Dengan buku bergaris semacam itu, anak dapat berlatih membuat dan meletakkan huruf-huruf secara benar. Garis dapat diberi warna yang mencolok untuk meningkatkan perhatian anak.
b. Remedial Mengeja
Ada beberapa metode pengajaran remedial bagi anak berkesulitan belajar mengeja, yakni sebagai berikut:
1) Persepsi dan Memori Auditoris bunyi-bunyi huruf. Berikan kepada anak latihan untuk mendengarkan bunyi-bunyi huruf, berikan penekanan pada pengetahuan tentang bunyi-bunyi bahasa dan analisis susunannya, dan kembangkan pula keterampilan untuk menggunakan bunyi-bunyi bahasa secara umum.
2) Persepsi dan memori visual huruf-huruf. Berikan kepada anak latihan persepsi dan memori visual huruf-huruf sehingga anak-anak dapat mengenal dan mengingat bentuk-bentuk huruf tersebut.
3) Penggunaan Metode Multisensori, yang meliputi penggunaan cara-cara seperti: (a) mengartikan dan mengucapkan; (b) mengkhayalkan; (c) mengingat kembali; (d) menganalisis kata; (d) menguasai.
4) Metode Fernald, merupakan pendekatan multisensori untuk mengajar membaca, menulis, dan mengeja.
5) Metode “tes – belajar – tes” lawan metode “belajar – tes”. Metode “tes – belajar – tes”, dimulai dengan memberikan tes awal untuk mengetahui kemampuan anak, setelah itu anak diajar, dan kemudian dites lagi. Sedangkan metode “belajar – tes” dimulai dari mengajarkan kata lebih dahulu baru kemudian melakukan tes untuk mengetahui penguasaan anak.
6) Mengeja kata dari proyektor film strip. Guru menulis kata-kata yang akan dieja pada transparansi. Kata-kata tersebut selanjutnya diletakkan di atas OHP dan ditutup dengan kertas yang memiliki “jendela” yang dapat dibuka dan ditutup.
7) Mengeja melalui tape recorder. Pengajaran mengeja dapat dilakukan dengan menggunakan tape recorder. Anak yang sudah dapat belajar sendiri, dapat melakukannya di laboratorium bahasa.
8) Menirukan kesalahan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengulang kesalahan anak sebelum memperbaiki-nya dapat memberikan keuntungan kepada anak. Melalui metode ini, anak disadarkan dari kesalahannya, baru kemudian diperbaiki. Dengan demikian, anak dapat membedakan antara respons yang salah dengan respons yang benar.
c. Remedial Menulis Ekspresif
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam melaksanakan remedial pembelajaran kesulitan menulis ekspresif, sebagai berikut:
1) Memberikan kesempatan kepada anak untuk banyak menulis.
2) Menempatkan anak dalam suasana kehidupan yang gemar menulis.
3) Biarkan anak memilih topik tulisannya sendiri.
4) Model penulisan dan berpikir yang strategis.
5) Mengembangkan berpikir reflektif.
6) Transfer kepemilikan dan kontrol penulisan siswa.
10.49
antokirosuke

